Melawan "Tsunami Informasi" dengan Deep Reading: Diskusi Litera Sekma
- waginus foundation

- Jul 6
- 2 min read
Penulis: Sinta Bela

CINANGSI, KABUPATEN BANDUNG BARAT — Di era digital saat ini, kita kebanjiran informasi setiap detiknya. Mulai dari notifikasi media sosial, berita daring, hingga pesan instan yang datang bertubi-tubi. Namun, apakah banyaknya informasi yang kita konsumsi membuat kita semakin bijak, atau justru sebaliknya?
Fenomena inilah yang mendasari Divisi Litera Sekretariat Mahasiswa (Sekma) menggelar diskusi ilmiah bertajuk "The Art of Deep Reading: Menjaga Sanitas di Era Tsunami Informasi" pada Kamis, 2 Juli 2026 lalu. Acara yang berlangsung di Aula Sekma mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB ini dihadiri oleh jajaran pengurus, anggota Sekma, serta perwakilan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNIPI.


Tantangan Literasi di Era Digital
Sinta Bela, selaku Ketua Divisi Litera Sekma yang bertindak sebagai narasumber, memaparkan bahwa masyarakat modern saat ini tengah menghadapi tantangan kognitif yang serius. Arus informasi yang terlalu deras atau biasa disebut tsunami informasi membuat perhatian kita mudah terfragmentasi akibat kebiasaan multitasking. "Dampaknya adalah kelelahan kognitif dan kecenderungan kita untuk memproses informasi secara dangkal (superficiality). Belum lagi ancaman disinformasi yang diperparah oleh algoritma filter bubble dan echo chambers di media sosial," ujar Sinta dalam pemaparannya.

Apa itu Deep Reading?
Sebagai penawar dari kedangkalan informasi tersebut, Sinta mengenalkan metode Deep Reading. Berbeda dengan sekadar membaca cepat atau scrolling di layar gawai, deep reading adalah proses membaca yang dilakukan secara intens, reflektif, dan analitis. Metode ini sangat krusial bagi mahasiswa untuk menumbuhkan daya berpikir kritis, menguji kebenaran sebuah informasi secara mendalam, sekaligus menjaga kesehatan mental (mental wellbeing) dari kecemasan akibat paparan informasi digital yang berlebihan.

Tips Praktis Memulai Deep Reading
Dalam diskusi tersebut, dibagikan juga beberapa langkah taktis yang bisa langsung diterapkan oleh mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
Menentukan Tujuan (Preview): Sebelum membaca buku atau jurnal, tentukan apa yang ingin dicari atau dipahami dari bacaan tersebut.
Baca Aktif dengan Anotasi: Jangan ragu untuk membuat catatan pinggir, memberikan simbol, atau menggarisbawahi poin penting.
Evaluasi dan Parafrase: Selalu evaluasi bukti-bukti yang disajikan penulis dan cobalah menuliskan kembali ide tersebut menggunakan bahasa sendiri untuk menguji pemahaman.
Manajemen Waktu Terfokus: Gunakan metode Pomodoro yang dimodifikasi, misalnya dengan membagi waktu 45–60 menit khusus untuk fokus membaca tanpa gangguan.
Kondisikan Lingkungan Digital: Aktifkan mode fokus atau Do Not Disturb di gawai, gunakan aplikasi pembaca bebas iklan, dan biasakan meluangkan waktu minimal 30 menit bebas layar (screen-free) sebelum membaca buku fisik.
Komitmen Bersama untuk Sanitas Intelektual

Forum Diskusi yang berjalan interaktif ini melahirkan beberapa komitmen dan rencana aksi nyata. Sekma Cinangsi bersama perwakilan BEM UNIPI sepakat untuk menginisiasi kelompok baca singkat (berdurasi 15–30 menit) guna membangun ekosistem diskusi yang kritis di lingkungan kampus. Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk membiasakan penulisan ringkasan reflektif berbasis bukti dari setiap literatur yang mereka pelajari. Melalui gerakan membaca mendalam yang terencana ini, diharapkan mahasiswa dapat secara sadar menjaga sanitas intelektual dan tidak mudah terombang-ambing di tengah derasnya arus informasi digital.



Comments