Menjaga Denyut Nadi Curug Belanda: Kolaborasi Warga Cirawamekar dan Mahasiswa dalam Ecovillage Riungan 4
- waginus foundation

- Jul 6
- 3 min read
Penulis: Sinta Bela

CIRAWAMEKAR, 2 Juli 2026 – Sumber daya air merupakan fondasi utama kehidupan dan kelestarian ekologis di pedesaan. Bergerak atas kesadaran tersebut, warga Desa Cirawamekar bersama elemen mahasiswa (Sekma Cinangsi) menggelar aksi nyata melalui agenda Ecovillage Riungan 4 yang bertajuk "Eksplorasi Sumber Daya Air di Curug Belanda".
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Curug Belanda ini menjadi ruang diskusi hangat sekaligus aksi lapangan yang memadukan kearifan lokal dan perspektif akademis.
Persiapan Benih Hijau dan Mobilisasi Rombongan
Rangkaian agenda dimulai sejak pagi hari pukul 07.00 WIB. Seluruh panitia dan peserta melakukan persiapan intensif, termasuk melakukan seleksi dan pemilihan bibit pohon Ketapang yang berkualitas tinggi. Tidak hanya menyiapkan tanaman pengikat air tersebut, peserta juga merakit papan nama khusus yang nantinya akan disematkan di lokasi penanaman sebagai simbol jejak kepedulian lingkungan.
Tepat pukul 08.00 WIB, rombongan bertolak dari titik awal menuju lokasi. Perjalanan menyusuri medan menuju Curug Belanda berjalan dengan aman dan lancar berkat kehadiran Ibu RT setempat yang bertindak langsung sebagai pemandu jalan. Dengan pemahamannya yang mendalam mengenai jalur dan karakteristik wilayah lokal, Ibu RT memimpin rombongan melewati rute terbaik hingga sampai di titik kumpul pada pukul 09.15 WIB untuk menurunkan dan menyiapkan seluruh peralatan serta logistik yang dibutuhkan.
Mengupas Siklus Hidrologi dan Potensi Sejarah Ekowisata 100 Tahun
Memasuki pukul 09.20 WIB, rombongan tiba di lokasi utama Curug Belanda. Agenda langsung dibuka dengan sesi foto bersama untuk mengabadikan momen kebersamaan lintas elemen tersebut. Setelah itu, kegiatan dipimpin oleh Bapak Anang Hadiat dan Bapak Ali Akbar untuk masuk ke dalam pemaparan materi ilmiah.
Sesi pertama berfokus pada materi Siklus Hidrologi. Di bawah arahan para ahli, seluruh peserta diajak menyusuri koridor sungai untuk memahami kondisi fisik air, debit, pentingnya vegetasi riparian, serta hubungannya yang erat dengan saluran irigasi maupun karakteristik kawasan pencairan air di wilayah tersebut.

"Menjaga air di hulu berarti menyelamatkan kehidupan di hilir. Curug Belanda memiliki potensi hidrologi yang besar, namun kelestariannya sangat bergantung pada perilaku kita yang tinggal di sekitarnya," ujar Bapak Anang Hadiat di sela-sela diskusi lapangan.
Tidak hanya mengkaji aspek fisik air, pimpinan kegiatan juga memaparkan materi mengenai Ekowisata. Dalam sesi ini terungkap fakta bahwa Curug Belanda tidak hanya menyimpan potensi alam yang melimpah, tetapi juga nilai historis yang kuat. Kawasan ini dinilai sangat berpotensi diajukan sebagai bangunan situs peninggalan sejarah karena usianya yang diperkirakan telah mencapai kurang lebih hampir 100 tahun.
Aksi Nyata Penanaman Pohon Ketapang di Area Kritis
Tidak berhenti pada diskusi teori, kegiatan langsung dibarengi dengan aksi pemulihan ekosistem melalui penanaman pohon bersama di area tangkapan air. Didampingi para pemimpin kegiatan dan Ibu RT, ibu-ibu penggerak warga Cirawamekar dan mahasiswa bergotong-royong menanam bibit pohon Ketapang yang telah disiapkan sejak pagi.
Langkah ini diambil sebagai tindakan preventif yang nyata untuk mencegah erosi tanah di sekitar tebing sungai serta menjaga kestabilan pasokan mata air lokal dalam jangka panjang. Kolaborasi lintas generasi antara ibu-ibu penggerak domestik dan mahasiswa Sekma Cinangsi ini melahirkan ruang diskusi yang interaktif mengenai manajemen sumber daya air berbasis masyarakat (community-based water management).
Hangatnya Kebersamaan di Bendungan Sungai
Setelah lelah menyusuri sungai dan menanam pohon, tepat pukul 11.00 WIB seluruh rangkaian acara Ecovillage Riungan 4 memasuki sesi komunal yang paling hangat: makan bersama di dekat area bendungan pengairan sungai.
Di tengah gemercik suara air bendungan yang jernih dan udara sejuk khas perdesaan, ibu-ibu, mahasiswa, Ibu RT, serta pimpinan acara menikmati hidangan tradisional yang telah dibawa. Sembari makan bersama, momen ini diisi dengan saling bertukar cerita dan sendau gurau yang berhasil meningkatkan keakraban serta mempererat tali silaturahmi kekeluargaan antar-elemen masyarakat.
Rangkaian agenda Ecovillage Riungan 4 di Curug Belanda ini resmi ditutup dengan khidmat pada pukul 11.45 WIB, sebelum seluruh peserta bersiap melakukan mobilisasi untuk perjalanan pulang kembali ke rumah masing-masing.



Comments