Ubah Paradigma Kelola Sampah dari Sumbernya, LPBI NU Jabar Gelar Pelatihan Pengolahan Sampah Berbasis Masyarakat di Cipatat
- waginus foundation

- Jul 8
- 2 min read
Oleh: Sinta Bela

CIPATAT, 7 Juli 2026 – Dalam upaya membangun kesadaran lingkungan dan memitigasi dampak perubahan iklim, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Jawa Barat menyelenggarakan agenda Pelatihan Pengolahan Sampah Berbasis Masyarakat.
Kegiatan strategis ini dilaksanakan di Aula Kantor Kecamatan Cipatat dan dihadiri oleh kurang lebih 45 peserta yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat, termasuk perwakilan RBM KBB, organisasi kepemudaan Sekretariat Mahasiswa Cinangsi (SEKMA), serta kader penggerak lokal.

Acara diawali dengan khidmat melalui pembukaan resmi dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara bersama-sama oleh seluruh hadirin. Guna kelancaran dan keberkahan kegiatan, doa bersama dipimpin langsung oleh perwakilan tokoh perempuan dari Ibu-Ibu PKK Desa Mandalasari.


Dalam sambutannya, Camat Cipatat menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya pelatihan kolaboratif ini. Selain mengucapkan terima kasih kepada para pihak penyelenggara dan narasumber, Camat menekankan pentingnya melakukan lompatan paradigma berpikir (mindset) di tengah masyarakat terkait penanganan limbah domestik.
"Kita harus mengubah paradigma lama yang sekadar 'membuang sampah pada tempatnya' menjadi 'mengelola sampah langsung dari sumbernya'. Pernyataan tegas ini didasari oleh realitas bahwa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bukanlah solusi akhir yang sesungguhnya untuk mengatasi persoalan sampah yang terus menumpuk," tegas Camat Cipatat dalam arahannya. Beliau juga menggarisbawahi bahwa tata kelola sampah masa kini wajib didasarkan pada moralitas, kemanusiaan, serta tanggung jawab lingkungan (environmental responsibility).

Menariknya, kehadiran aktif dari perwakilan mahasiswa yang tergabung dalam SEKMA Cinangsi memberikan warna tersendiri dalam agenda ini. Keterlibatan mereka dinilai menjadi motor penggerak dan motivasi besar bagi proses kaderisasi anak muda di wilayah Cipatat agar lebih peduli terhadap isu-isu ekologi bumi. Antusiasme generasi muda ini bahkan menarik perhatian khusus dari Ibu Camat Cipatat, yang secara langsung sempat mencari tahu lebih dalam dan mengapresiasi eksistensi serta gerakan positif yang diusung oleh SEKMA. Momentum tersebut juga dimanfaatkan oleh perwakilan mahasiswa untuk memperkenalkan lebih luas visi pengabdian lingkungan hidup yang dibawa oleh SEKMA kepada para birokrat dan tokoh masyarakat setempat.


Memasuki sesi inti, pelatihan ini menghadirkan dua narasumber yang memaparkan materi secara komprehensif, di mana setiap sesi penyampaian materi selalu diselingi dengan ruang diskusi dua arah yang sangat interaktif antara pemateri dan peserta:
1. Materi Pertama (Teori & Konsep): Disampaikan oleh Wa Dadang (Dadang Sudardja) selaku Ketua LPBI NU Jawa Barat. Beliau mengupas tuntas keterkaitan erat antara "Sampah dan Perubahan Iklim". Dalam paparannya, dijelaskan bagaimana tumpukan sampah yang tidak terkelola menghasilkan gas metana (CH⁴) yang memperparah emisi gas rumah kaca dan memicu pemanasan global. Wa Dadang menekankan pentingnya beralih ke ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai musuh melainkan sebagai sumber daya ekonomi yang belum dikelola.
2. Materi Kedua (Praktik Lapangan): Dipandu oleh Kang Arif yang merupakan perwakilan dari LPBI NU Kota Bandung. Sesi ini berfokus pada ranah implementasi teknis dan praktik langsung pengolahan sampah. Para peserta diajak untuk memahami metode pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah, serta cara-cara praktis mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai guna, seperti pembuatan kompos maupun optimalisasi pemanfaatan limbah bernilai ekonomis.
Melalui pelatihan yang kaya akan diskusi ini, LPBI NU Jawa Barat bersama Pemerintah Kecamatan Cipatat berharap para peserta khususnya elemen pemuda dan kader lokal dapat menjadi agen perubahan (agent of change) di desanya masing-masing, sehingga pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat terwujud nyata demi menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan bumi bagi generasi mendatang.



Comments