Tingkatkan Kualitas Ibadah, Divisi Kerohanian Gelar Kajian Tahsin Al-Qur'an di Sekma
- waginus foundation

- Jun 1
- 2 min read
Oleh: Sinta Bela

CINANGSI, Kabupaten Bandung Barat – Divisi Kerohanian kembali sukses menggelar salah satu program kerja unggulannya, yaitu Kajian Tahsin Al-Qur'an secara rutin. Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat Mahasiswa Cinangsi (Sekma) ini dihadiri oleh seluruh anggota organisasi yang tampak antusias mengikuti jalannya kajian dengan khidmat, aktif, dan interaktif.
Kajian kali ini dibuka dengan pemaparan mendalam mengenai esensi dari Tahsin. Secara bahasa, kata Tahsin berakar dari hassanah yang memiliki arti memperbaiki, memperbagus, atau mempercantik. Sementara dalam konteks membaca Kitab Suci, Tahsin dipahami sebagai metode pembelajaran untuk menyempurnakan pelafalan ayat-ayat suci Al-Qur'an agar sesuai dengan aturan tajwid yang benar. Fungsi utama dari mempelajari Tahsin ini adalah untuk menjaga lisan pembacanya agar terhindar dari kesalahan membaca (lahjan). Kesalahan tersebut meliputi kesalahan fatal yang dapat mengubah arti ayat (lahnun jali), maupun kesalahan kecil pada kesempurnaan sifat huruf (lahnun khafi).

Melalui pemahaman Tahsin yang baik, seorang muslim diharapkan dapat merasakan kekhusyukan yang lebih dalam karena mampu melafalkan firman Allah SWT secara tartil dan penuh adab. Bedah Fondasi Huruf Hijaiyah hingga Surat Al-Fatihah Memasuki materi inti, para peserta diajak untuk membedah fondasi yang paling mendasar, yaitu cara pembacaan huruf-huruf hijaiyah secara berurutan mulai dari Alif, Ba, Ta, Tsa, dan seterusnya. Pada sesi ini, pengulasan dilakukan secara detail mencakup posisi lidah, bibir, serta karakteristik khas (makharijul huruf dan sifatul huruf) dari masing-masing huruf agar tidak tertukar saat dilafalkan. Setelah memahami fondasi huruf, alur kajian bergeser pada praktik pembacaan Surat Al-Fatihah secara utuh, yang dimulai dari pelafalan Ta'awudz dan Basmalah hingga ayat terakhir. Pemilihan
Surat Al-Fatihah ini dinilai sangat krusial mengingat kedudukannya sebagai salah satu rukun qauli dan syarat sah dalam ibadah salat. Oleh karena itu, ketepatan bacaannya wajib diperhatikan dengan saksama dan tidak boleh keliru. Evaluasi Ketat Lewat Metode Talaqqi Untuk memastikan pemahaman materi secara mendalam, agenda dilanjutkan dengan sesi tes dan simulasi membaca perorangan. Setiap peserta yang hadir mendapatkan giliran untuk maju satu per satu guna mempraktikkan langsung bacaan huruf hijaiyah dan Surat Al-Fatihah di hadapan penguji. Melalui metode talaqqi (berhadapan langsung) ini, setiap lantunan ayat disimak secara saksama untuk kemudian diberikan notasi serta koreksi instan yang disesuaikan dengan kendala bacaan masing-masing individu.

Sesi ini berlangsung sangat interaktif sekaligus menantang, karena para peserta bisa langsung mengetahui letak kekeliruan mereka dan seketika memperbaikinya saat itu juga. Sepanjang jalannya praktik, beberapa poin penting yang dievaluasi secara ketat antara lain:Ketepatan panjang-pendek harakat (mad). Kejelasan artikulasi huruf (seperti membedakan pelafalan huruf Alif dan 'Ain). Penekanan hukum tajwid yang sering kali terlewat atau kurang pas ketika membaca Al-Fatihah secara terburu-buru.

Konsistensi Memperbaiki BacaanKajian Tahsin ini ditutup dengan sebuah kesimpulan penting bahwa kemampuan membaca Al-Qur'an yang benar bukanlah tentang siapa yang paling cepat hafal, melainkan tentang kemauan untuk terus belajar memperbaiki makhraj dan tajwid secara konsisten. Melalui kegiatan rutin ini, diharapkan seluruh anggota organisasi dapat lebih memahami fungsi penting Tahsin serta semakin termotivasi untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur'an. Dengan demikian, kualitas ibadah salat dan spiritualitas harian mereka dapat semakin meningkat ke depannya.



Comments